Imam rahimahullāh pernah menuturkan, bahwa menjaga lisan merupakan kewajiban bagi setiap muslim, oleh sebab itu hendaknya kita tidak berbicara kecuali yang jelas manfaatnya. Adapun jika maslahat dan mudharatnya sama, maka lebih baik diam sebab hal ini lebih selamat.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
_”Di antara tanda baiknya Islām seseorang ialah ia meninggal hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”_
(Hadīts riwayat At Tirmidzi nomor 2317)
Maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk merenung sejenak sebelum mengucapkan sebuah kata. Apakah yang akan ia ucapkan akan bermanfaat ataukah sebaliknya?
Jika tidak, maka hendaknya ia diam. Namun jika dia yakin ada manfaat dibaliknya, maka sebaiknya ia kembali merenung sekali lagi, apakah ada yang lebih bagus untuk diucapkan dan lebih bermanfaat dari apa yang akan ia katakan?
Ingatlah bahwa ucapan lisan merupakan representasi dari apa yang ada dalam hati seseorang. Oleh karenanya jika kita ingin mengetahui keadaan hati seseorang kita bisa melihat dari ucapan-ucapannya.
Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Yahya bin Mu’ādz rahimahullāhu ta’āla:
القلوب كالقدور تغلي بما فيها، وألسنتها مغارفها
_”Hati itu bagaikan kuali yang bergejolak di dalam dada sedangkan lisan merupakan gayung untuk mengambil isi kuali tersebut.”_
Dan di antara fakta yang cukup mengejutkan ialah seseorang mungkin cukup mudah untuk meninggalkan berbagai bentuk maksiat seperti memakan yang haram, menzhalimi orang lain, minum khamr, hingga melihat hal-hal yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla benci.
Akan tetapi ia akan sangat kesulitan untuk menjaga lisannya dari mengucapkan hal-hal yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla larang. Bahkan tak jarang kita dapati sosok lelaki yang tampak shalih, rajin beribadah, rajin melakukan hal-hal yang bermanfaat akan tetapi lidahnya kerap mengeluarkan kalimat yang akan Allāh Subhānahu wa Ta’āla murkai.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:
قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان
_Seorang laki-laki berkata, “Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan mengampuni Si Fulan.”_
Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla lantas menghukum orang tersebut dengan menghapus seluruh amalan shalih yang pernah ia buat lantaran ucapannya tersebut.
Tak mengherankan jika para shahabat dan tabi’in benar-benar khawatir dengan apa yang mereka ucapkan bahkan mereka merasa berdosa saat mengucapkan, “Hari ini panas,” atau, “Hari ini terasa dingin,” sebab mereka khawatir ucapannya tersebut termasuk dalam mengeluh kepada takdir.
Shahabat Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu bahkan pernah bersumpah bahwa lisan merupakan hal yang paling butuh untuk dikerangkeng.
Yunus bin Ubaid rahimahullāh pernah menuturkan, “Tidaklah aku melihat seseorang yang memperhatikan lisannya kecuali hal tersebut berpengaruh terhadap seluruh aktivitasnya yang lain.”
Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ketahuilah bahwa terdapat dua bahaya besar pada lisan, bisa jadi seseorang selamat dari yang pertama namun tidak dengan yang kedua.
⑴ Ucapan yang buruk.
⑵ Diam terhadap perkara yang hak yang harusnya dia ungkapkan.
Dan orang yang selamat adalah orang yang berada di tengah-tengah keduanya, yaitu mereka menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang buruk serta mengucapkan hal-hal yang bermanfaat baginya.
Karena bisa jadi seseorang datang pada hari kiamat membawa segunung kebaikan namun hal tersebut lenyap seluruhnya karena satu atau dua kalimat yang pernah ia ucapkan. Sebaliknya bisa jadi seorang datang dengan membawa dosa sebesar gunung namun dosa tersebut Allāh Subhānahu wa Ta’āla ampuni lantaran lisannya gemar berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam rangka meminta nasihat. Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam lantas bersabda:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
_”Bila engkau hendak shalat, shalatlah layaknya shalat seperti orang yang sebentar lagi akan wafat. Jangan mengatakan satu ucapan yang kelak akan engkau sesali dan janganlah mengharapkan orang lain memberimu apa yang mereka miliki.”_
(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 4171)
Saat shahabat Utbah bin Amir bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang kunci keselamatan maka Beliau menjawab:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
_”Jagalah lisanmu, buatlah rumahmu terasa luas bagimu dan tangisi dosa yang pernah engkau perbuat.”_
(Hadīts riwayat At Tirmidzi nomor 2406)







0 comments:
Posting Komentar